BannerDepan

Abaikan Tuntutan Warga, Diduga Sosialisasi Jadi Modus PT GMS Gugurkan Kewajiban

 

Kendari, Sultrapost.ID – Hingga kini polemik antara PT Gerbang Multi Sejahtera (GMS) dengan Masyarakat di empat Desa yakni, Sangi-sangi, Ulusawa, Tue-tue dan Lawisata, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) tak kunjung usai. Pasalnya, perusahan tersebut tetap menolak untuk mengakomodir berbagai usulan masyarakat lingkar tambang, berupa evaluasi kewajiban perusahaan yang tertuang dalam MoU serta kenaikan kompensasi.

Muhammad Roy mengatakan, masyarakat lingkar tambang merasa pihak perusahaan tidak serius dalam melaksanakan kewajibannya. Sebab, sosialisasi yang dilakukan bersama empat Desa, diduga hanyalah upaya untuk menggugurkan kewajiban agar memperoleh legitimasi dari masyarakat dalam melaksanakan aktifitas pertambangan, sedangkan substansi permasalahannya tidak diperhatikan.

“Sosialisasi yang dilakukan bersama Masyarakat empat Desa hanyalah upaya untuk menggugurkan kewajiban, sebab substansi permasalahannya tidak diindahkan oleh perusahaan, masyarakat sejatinya tidak hanya menuntut realisasi kewajiban perusahaan dalam MoU, melainkan menuntut untuk di Addendumnya MoU lama, guna terakomodirnya tuntutan masyarakat khususnya peningkatan nilai kompensasi untuk masyarakat lingkar tambang,” ungkapnya, Selasa, 30 Maret 2021.

Ironisnya lagi kata dia, pihak perusahaan justru melibatkan warga di lima Desa yang notabenenya bukan masyarakat lingkar tambang, dengan iming-iming kompensasi agar perusahaan tersebut tetap melakukan aktivitasnya dengan mulus.

“ini menjadi tanda tanya besar, kenapa perusahaan melibatkan warga lima desa yang bukan lingkar tambang. Bahkan saat kami ingin bertemu perusahaan di lokasi, justru di halangi oleh aparat kepolisian, sedangkan warga diluar lingkar tambang di biarkan. Kapolsek sempat menyampaikan jika warga lima desa itu misinya berbeda. Sepertinya ada upaya perusahaan untuk membenturkan kami, karena jika tidak untuk apa warga lima desa di Mobilisasi untuk mengawal alat berat,” ujarnya.

Warga lingkar tambang saat hendak bertemu dengna pihak PT GMS.

Kendati demikian, Roy mengaku jika masyarakat lingkar tambang akan tetap konsisten dengan tuntutan mereka. Bahkan masyarakat juga menegaskan pihak perusahaan tidak mengakomodir tuntutan masyarakat Lingkar Tambang maka gejolak sosial akan tetap ada.

“Apa masalahnya sehingga perusahaan tidak membuka ruang negosiasi terkait tuntutan masyarakat untuk menaikan nilai kompensasi, ini kan aneh,” pungkasnya.

Hal senada juga diungkapkan Widarja. Dirinya membenarkan dugaan bahwa PT. GMS menjadikan sosialisasi sebagai upaya untuk menggugurkan kewajiban agar memperoleh legitimasi terhadap aktifitas di Site Area PT. GMS.

“Kalau PT. GMS serius untuk menyelesaikan gejolak, harusnya mereka mengakomodir tuntutan masyarakat mengenai kenaikan kompensasi dan tuntutan-tuntutan lainnya, anehnya Masyarakat Lingkar Tambang melalui perwakilannya diminta untuk menyiapkan daftar usulan untuk disampaikan saat sosialisasi, alih-alih mengakomodir malah perusahaan menegaskan untuk fokus terhadap MoU yang lama,” ungkap Widarja.

Untuk diketahui PT GMS beberapa waktu lalu memobilisasi alat berat, namun mendapat penolakan dari warga lingkar tambang, lantaran belum adanya kesepakatan antara kedu belah pihak.

Laporan : Aidil

Anda mungkin juga berminat
Tulis Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.