BannerDepan

Akrobat Politik Awal Tahun di Padepokan Yang Terhormat

Oleh:
H. Sahrun Gaus, SP.,MM

Belum pulih lelah kita setelah memperingati Hari Ulang Tahun Negeri kita Bombana yang ke 15, kita telah dipertontonkan sebuah akrobat politik yang memiriskan hati. Tapi untuk yang satu itu, sepertinya tidak tepat kalau kita sebut sebagai kado ulang tahun Bombana.

Bagaimana tidak, tontonan kurang terpuji ini dilakonkan oleh mereka-mereka yang sering dipanggil ‘Yang Terhormat’ digedung megahnya dengan judul pertunjukkan “Rapat Internal” yang membahas tentang kebutuhan internal pula.

Rapat Internal yang konon agendanya membahas gizi internal yang tidak memuaskan, berakhir kisruh.

Maka jadilah lembaga yang terhormat laksana sebuah padepokan silat dimana ketua padepokan mengeluarkan senjata pamungkas (baca badik), sontak direspon oleh anggota padepokan lainnya dengan jurus yang tidak beraturan.

Kalau dalam dunia persilatan, misalnya dalam serial Wiro Sableng kita biasa mendengar jurus ‘kunyuk melempar buah’, atau jurus ‘dewa mabok’ maka dipertunjukan akbrobat ini, jurusnya menjadi ‘lempar aqua pecah gelas’ banting kursi kena tulang kering’, dan jurus ‘lompat meja tangkis lemparan’. Dan akrobatpun belum usai. Itu baru babak pertama.

Babak kedua adalah lapor-melapor.
Melapor ke pihak luar memang sah. Tetapi jangan pula dilupakan bahwa didalam “padepokan” ada Badan Kehormatan (BK) yang mengurus kehormatan anggotanya. Apalagi kasusnya dari internal. Atau apakah mereka sudah tidak percaya lagi kepada lembaga yang dibuat sendiri, sehingga lebih mempercayai lembaga luar untuk meyelesaikan masalahnya?. Atau mungkin ini jurus baru lagi ‘sambil menyelam minum air’. Artinya sambil melapor sambil minta perlindungan keselamatan dari ancaman?. Wallahu a’lam.

Saudaraku….

Sebagai orang yang juga pernah beraktivitas di lembaga yang terhormat itu (baca bukan padepokan), dengan tidak berpretensi untuk menasehati karena saya belum layak jadi penasehat bagi saudara-saudaraku yang terhormat, saya hanya mengingatkankan bagi yang mungkin terlupa, bahwa kalian adalah putra-putri terbaik Bombana. Pilihan dari lebih 100 ribu orang pada lima tahun silam.

Jangan cederai predikat yang terhormat itu. Jika ada masalah internal, rundingkan dengan cara terhormat pula. Sebagai seorang muslim, kita pasti tahu cara menegur imam yang benar. Artinya sang imam bukan luput dari khilaf. Sebagai imam, juga kita diajarkan adab menerima teguran jika ada kesalahan. Dengan begitu Insya Allah jamaah kita akan selamat.

Itu di Rapat Internal

Diluar sana, biasanya pertunjukkan seperti ini menjadi santapan empuk bagi pemburu berita. Tapi entah kenapa, sepertinya ikut terpapar virus jurus-jurusan dari dalam pula.
Mereka pun memasang jurus ‘baku tahan ilmu’. Akibatnya, kita membaca beritanya justru melalui media on line yang jauh diluar arena pertunjukan. Padahal ada beberapa media disekitar “padepokan” itu, tapi seperti bungkam seribu bahasa. Semoga saya keliru. Tapi setidaknya begitu pandangan beberapa orang dalam WA Grup saya.

Tentu saja kita masih berharap ada hikmah baik dibalik semua ini. Setidaknya kita berharap agar kegarangan mereka dalam Rapat Internal itu sama atau lebih garang lagi ketika rapat dengan eksternal dalam memperjuangan aspirasi yang diwakilinya.

Dan yang lebih penting lagi, kita tidak menambahkan satu syarat lagi untuk menjadi anggota yang terhormat yaitu harus pintar main silat kampung. Karena persilatan sesungguhnya adalah silat ide, gagasan, dan argumentasi logis (baca adu otak) bukan adu otot. Atau jangan-jangan benar kata anak tetangga saya, bahwa logis tanpa logistik sama dengan anarkis. Semoga ini hanya kebetulan saja.

Kita masih menunggu babak ketiga yakni :

Mungkin judulnya adalah Babak Penyesalan dan Rekonsiliasi atau Sanksi dan Penghukuman.

Entahlah….

Penulis Adalah Tokoh Pemuda Bombana, yang Juga adalah Ketua Pemekaran Kabupaten Bombana

Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.