Aktivitas PT NLS Disinyalir Dapat Timbulkan Kerusakan dan Bencana Banjir di Kabaena Timur

Bombana, Sultrapost.ID – Aktivitas pertambangan PT Narayana Lambale Selaras (NLS) di tiga wilayah yakni, Kelurahan Lambale, Kelurahan Dongkala serta Desa Tapuhaka, Kecamatan Kabaena Timur disinyalir dapat merusak satu satunya sumber mata air warga dan menimbulkan bencana banjir.

Wakil Ketua DPRD Bombana, Amiadin saat ditemui diruang kerjanya, Rabu 7 Agustus 2019 mengatakan seharusnya tidak boleh ada aktivitas penambangan di tiga wilayah tersebut. Sebab, terdapat gunung Wumbu Tuwele yang memiliki sumber mata air utama.

“Di gunung itu tepatnya berada di Kelurahan Lambale, ada satu-satunya sumber mata air utama yang digunakan warga. Sehingga tidak dibolehkan ada aktivitas di daerah itu. Saya tahu persis daerah itu, karena saya juga putra daerah,” ungkapnya.

Bahkan kata dia, sejak 2008 lalu Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Sultra sudah melarang adanya aktivitas pertambangan di lokasi gunung tersebut.

“Sebelumnya masih PT Billy Indonesia  saat itu, warga melakukan aksi demonstrari besar-besaran untuk menolak aktivitas penambangan di gunung itu. Sehingga ESDM pun turun dan tidak membolehkan lagi dilakukan penambangan di daerah itu,” ucapnya.

Akan tetapi, berjalannya waktu PT Billy yang kini menjelma menjadi PT NLS itu tiba-tiba saja diberi izin untuk menambang di lokasi tersebut. Jika dipaksakan lanjutnya, maka dirinya memastikan akan berdampak pada rusaknya sumber mata air warga, bahkan dapat menimbulkan bencana banjir.

“Sekarang PT NLS sudah beraktivitas, jika dipaksakan gunung itu untuk dikeruk maka saya pastikan warga akan kehilangan sumber mata air dan juga menimbulkan bencana banjir,” jelasnya.

Ketua PPP Bombana ini juga menambahkan selain dampak yang ditimbulkan, perusahaan yang tengah berktivitas itu juga wajib menyelesaikan tanggung jawabnya kepada masyarakat.

“Masih ada yang harus diselesaikan, mulai dari ganti rugi lahannya, perekrutan tenaga kerja lokal serta kompensasi yang sebelumnya telah disepakati,” bebernya.

Padahal seharusnya, kehadiran perusahaan di wilayah itu dapat memberikan dampak positif, bukan memberikan dampak kerusakan serta kesengsaraan bagi masyarakat.

“Dalam waktu dekat ini kita akan segera lakukan monitoring hingga tinjau lapangan terkait aduan-aduan masyarakat. Bahkan kita akan memanggil pihak perusahan,” tuturnya.

Kemudian, masih Amiadin, beberapa waktu lalu juga pernah lahir kesepakatan antara masyarakat dan Pemerintah Propinsi (Pemprop) dalam hal ini dinas ESDM Sultra, bahwa wilayah Wumbu Tuwele tidak bisa di olah, sebab akan berdampak negatif terhadap wilayah sekitar.

“Bayangkan, seketika harta yang selama ini kita kumpul, akan hilang seketika, ketika bencana datang. Sebagai putra daerah, miris saya melihatnya, saya ingin masyarakat yang ada diwilayah itu bisa bersama sama memikirkan hal itu, mungkin sekarang kita belum rasakan, tetapi anak cucu kita, mau kemana setelah semua hilang seketika karena bencana,” tutup anggota DPRD Bombana, yang sebentar lagi memasuki empat periode ini, dengan nada sedih.

Laporan: Aidil

Anda mungkin juga berminat

Tulis Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.