Antara Wabah dan Narsisme Politik

Oleh:

Adan Ako, Demisioner Ketua PC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Kabupaten Muna periode 2017 – 2019

Wabah Covid-19 masih eksis hingga detik ini. Korban dari ganasnya wabah Covid-19 pun terus berjatuhan. Jumlahnya bukan menurun dari hari ke hari, justru kian bertambah.Bahkan tenaga medispun tidak sedikit yang gugur dalam berperang melawan makhluk tak kasat mata bernama Corona.

Peristiwa ini tentu menjadi cerita duka bagi Negeri kita. Memanggil kepada siapa saja yang mendengar. Menyentuh hati para manusia yang masih memiliki rasa.Ya, Indonesia kita tengah berduka. Ibu pertiwi membutuhkan bantuan dan uluran tangan.

Bantuanpun datang dari berbagai profesi. Kalangan Asatiz dan juga para Influencer bahu membahu memberikan sumbangan. Bahkan terjun langsung untuk menghadapi wabah Covid-19 ini.Tidak sekadar materi, bantuan moril juga terus menerus diberikan secara tulus oleh para Asatiz kita.

Di Kabupaten Muna, ada salah satu Kelompok yang mengatas namakan dirinya sebagai MPR (Masyarakat Pecinta Rajiun) memberikan bantuan lapangan melalui penyemprotan Disinfektan di daerah Raha dan sekitarnya. Patut diapresiasi, tapi ada satu hal yang mengganjal dan disayangkan. Atribut yang digunakan oleh kelompok ini berembel embel salah satu Balon Bupati Muna.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, kelompok ini bertujuan agar seluruh rangkaian Visi dan Misi politik Bupati Muna barat yang haus akan kekuasaan, kedudukan dan jabatan, berjalan mulus dan lancar tidak hanya di Kabupaten Muna Barat tetapi juga di Kabupaten Muna kita yang tercinta.

Kritikanpun terus muncul dari kalangan masyarakat yang sangat menyayangkan hal ini. Misi serakah,gerakan Underground yang mengatasnamakan kemanusiaan tidak terbendung diucapkan oleh masyarakat yang tau betul bahwa kelompok ini (MPR), bergerak secara terselubung dan menghianati rasa Kemanusiaan. Masyarakat Muna yang tau betul kegiatan Gelap ini sangat menyanyangkan atas matinya Nurani dan kerasnya Hati yang di miliki kelompok ini demi kepentingan politik salah satu Balon Bupati Muna.

Eksistensipun di pertaruhkan. Pembelaan diri dan rasionalisasi terus di gencarkan oleh orang orang yang “Nuraninya” telah padam karena kehausan kekuasaan yang dimiliki oleh “Patronnya”. Masyarakat Muna yang cerdas dan terdidikpun telah paham akan gerakan kelompok ini yang menatasnamakan “Kemanusiaan”. Gerakan ini akhirnya dipaksa mundur dan berhenti. Karena Muna,tidak butuh pencitraan disaat Corona menyerang tanpa henti membabibuta dan tak pandang bulu untuk memilih mangsanya.

Sakit..tapi apa daya,gerakan mereka telah putus dan rapuh di ujung pena seorang bupati Muna lewat Surat Edaran Instruksi Bupati No 2 Tahun 2020.

Instruksi ini menjadi harapan dan jawaban untuk masyarakat Muna agar kelompok Narsis yang hanya mencari “Nama” berhenti dalam aksi “Modus” yang mereka lakukan. (*)

Anda mungkin juga berminat

Tulis Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.