Belum Juga Sehari di Buka PT MPI Kembali di Segel Warga

 

Konawe, Sultrapost.ID – Polemik panjang antara PT Muda Prima Insan (MPI) dan warga pemilik lahan di Desa Amosilu, Kecamatan Besulutu, Kabupaten Konawe rupunya belum usai.

Beberapa alat berat yang berada dalam wilayah konsesi IUP perusahaan tambang itu, yang sebelumnya dikabarkan disegel dan telah dibuka rupanya kembali disegel oleh warga lingkar tambang. Bahkan kali ini warga tidak hanya menyegel alat berat perusahaan melainkan juga pintu masuk ke lokasi tambang PT MPI pun ikut disegel.

Penyegelan itu terjadi hanya berselang beberapa jam saja setelah warga lingkar tambang mendengar ada sekelompok warga yang berjumlah 10 orang dengan mengatasnamakan masyarakat berusaha membuka penyegelan alat berat yang dilakukan warga pada Minggu 4 Oktober 2020 kemarin.

Informasi itu pun sontok membuat ratusan masyarakat setempat secara bersama-sama meninjau lokasi tersebut.

“Hari ini kami kembali melakukan penyegelan alat berat buntut dari ketidakjelasan kehadiran perusahaan di kampung kami. Setelah minggu lalu upaya tersebut kami lakukan penyegelan. Tapi kami dengar ada kelompok keluarga yang datang membuka penyegelan tanpa ditahu maksud dan tujuan mereka,” ungkap tokoh masyarakat Desa Amosilu, Rasmin K, Minggu 11 Oktober 2020.

Mantan Kepala Desa Amosilu ini menghimbau warga agar tidak terprovokasi dengan kehadiran kelompok yang mengatasnamakan kepentingan masyarakat lingkar tambang.

“Saya harap jangan ada yang terprovokasi dari upaya kepentingan kelompok tertentu dengan mengatasnamakan masyarakat Kecamatan Besulutu, agar bisa terhindar dari segala indikasi pembodohan yang akan mereka lakukan,” ujarnya.

Hal senada juga disampaika kuasa hukum masyarakat, Jaswanto. Kata dia, apa yang dilakukan kelompok tersebut merupakan tindakan ilegal yang tak perlu ditanggapi oleh pihak perusahaan.

“Apa yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu mengatasnamakan kepentingan masyarakat umum adalah hal yang tidak mendasar, sebab kehadiran mereka bukan mewakili kepentingan masyarakat banyak melainkan kepentingan pribadi,” ucapnya.

Soal point-point perjanjian yang disepakati oleh kelompok tersebut kepada pihak perusahaan, Advokat muda Sultra ini secara tegas menyampaikan jika point itu dibuat oleh mereka sendiri tanpa melibatkan masyarakat banyak serta tanpa ada pembahasan terlebih dahulu.

“Sungguh sangat aneh yang mereka sampaikan katanya kepentingan masyarakat tapi sejauh ini masyarakat tidak pernah dilibatkan pada setiap pembahasan dengan perusahaan, dugaan saya orang orang seperti inilah yang akan jual tanah airnya sendiri,” tutupnya.

Laporan : Aidil

Anda mungkin juga berminat

Tulis Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.