Covid-19: Saatnya Bersama

Penulis: A. Tirta Wahyu Pratama, Mahasiswa Pendidikan Geografi FKIP UHO
PMII Komisariat UHO

DITERAS mushola seperti biasa selepas sholat Dzuhur Pa Engko yang merupakan Kyai kampung berdiskusi dengan beberapa jamaah mushola, sambil menikmati rokok tembakau racikannya sendiri, dia tiba-tiba bergumam “Kenapa pejabat kita tiba-tiba gagap merespon penyebaran wabah Corona”.

Salah seorang jamaah menimpali, “Mungkin pejabat kita tidak siap kyai dengan munculnya wabah ini, atau pejabat kita lagi dilanda virus panik”, ujarnya, sambil cengar cengir.

“Dalam situasi seperti ini, pemerintah dan kita – kita ini harus lebih tenang menghadapi situasi, kita tidak boleh panikan, karena keputusan yang diambil pasti hasilnya buruk”, sambung Kyai Engko merespon jamaah lainnya.

“Sejak Covid-19 ini ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO (Badan Kesehatan Dunia) dan direspon oleh pemerintahan Jokowi dengan memberlakukan karantina mandiri maupun work from home, walau dengan tingkat kepatuhan publik yang rendah, tetapi itu sudah menunjukkan bahwa soal ini (baca:covid-19) adalah masalah serius, bahkan sangat serius. Jenderal Tito Menteri Dalam Negeri bahkan mengatakan ini adalah perang, perang melawan pandemic global yang saat ini sudah membunuh jutaan orang diberbagai belahan dunia”, lanjut Kyai Engko menjelaskan panjang lebar.

“Terus apa yang mesti dilakukan pemerintah dan masyarakat Kyai?”, tanya jamaah lain.

“Memupuk solidaritas, meninggikan rasa percaya kita pada pemerintah, ini saat yang tepat bagi kita untuk bersatu tanpa sekat ideologis demi menyelamatkan nyawa manusia”, jawab Kyai engko sambil menghisap tembakaunya.

“Pandemi Covid-19 setidaknya menyisakan tiga kedaruratan yang harus direspon secara cepat dan strategis oleh pemerintah menurut Conni Rahakundini Bakrie (Kompas, 18 April 2020); pertama, krisis kesehatan masyarakat, Covid-19 telah mengifeksi setidaknya 2,2 juta kasus didunia dan 600 kasus di Indonesia. Dari kasus tersebut angka kematian dan sembuh nyaris sebanding,” masih Kyai.

“Hal ini menunjukan bahwa virus mematikan harus ditanggulangi dengan cara – cara yang luar biasa pula; kedua, krisis ekonomi, wabah covid-19 tidak saja menyisakan masalah kesehatan masyarakat, tetapi memporak porandakan sektor ekonomi. Menurut IMF sector perekonomian global telah memasuki tahap resesi, dimana semua Negara menghentikan aktivitas perekonomian dalam rangka menekan persebaran covid-19. Indonesia melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi hanya sebesar 2,3 % dari target 5 % diawal 2020. Resesi ekonomi ini tentu membutuhkan kebersamaan, solidaritas dalam rangka kestabilan ekonomi; ketiga, krisis keuangan, pengelolaan keuangan melalui instrument APBN/APBD yang sebelumnya diharapkan mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional harus dialihkan untuk memperkuat stabilisasi pencegahan covid-19 ini, pemulihan kesehatan masyarakat, pemberian jaring pengaman social bagi masyarakat rentan miskin dan miskin serta upaya pemulihan usaha UMKM. Pergeseran belanja dalam APBN/D tentu akan mengubah struktur penggunaan anggaran yang semula untuk peningkatan ekonomi kini lebih focus pada pencegahan covid-19,” lanjut Kyai Engko menambah penjelasannya.

Kiyai ini berpesan kepada jamaah, menghadapi covid-19 maka diperlukan setidaknya dua hal agar bisa secepatnya keluar dari krisis tersebut, pertama, membangun kebersamaan, krisis yang melanda saat ini memerlukan kebersamaan sehingga masalah ini tidak saja menjadi urusan pemerintah semata, tetapi keterlibatan berbagai unsur dalam masyarakat akan mempercepat krisis ini berakhir.

Ruang – ruang publik harus diisi oleh nuansa teduh dan damai, informasi yang malang melintang diruang public harus berisi narasi yang positif. Dengan demikian sektor ekonomi akan dapat dipulihkan dengan lebih cepat.

Kemudian yang kedua, kerjasama antar daerah, masing – masing pemerintah daerah harus mampu bekerjasama untuk memutus penyebaran covid-19 ini. Tukar menukar informasi serta pengalaman dalam penanganan dan pemulihan akibat dampak covid-19 ini menjadi penting untuk digerakan. Kerjasama antar daerah tidak saja pada pemutusan mata rantai penyebaran virus tetapi kerjasama dalam pemulihan dan penguatan ekonomi pasca covid-19 ini.

Kita sedang berjuang, mari bergandeng tangan untuk Indonesia yang lebih baik. (*)

Anda mungkin juga berminat

Tulis Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.