BannerDepan

Dokumen Imigrasi WNA Di Kabaena Utara di Pertanyakan

Sultrapost.com – Dokumen imigrasi milik Warga Negara Asing di Kabaena Utara dipertanyakan, pasalnya informasi yang berkembang ditengah masyarakat, para WNA ini lari kehutan belantara saat sejumlah personil dari kantor Imigrasi Bau-Bau mendatangi tempat dimana para WNA tersebut sedang bekerja, tepatnya diareal konsensi PT Surya Saga Utama (SSU) Kecamatan Kabaena Utara beberapa waktu lalu.

Terkait hal ini, pihak kantor Imigrasi Bau-Bau, diharapkan perlu melakukan pendalaman secara serius untuk mengetahui kepastian para WNA ini, legal apa ilegal keberadaanya di Pulau Kabaena.

Hal ini senada dengan pernyataan, Kepala desa Mapila, Kecamatan Kabaena Utara, Sudirman, saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya pada rabu (31/8/2016).

“Informasi yang saya peroleh, waktu orang imigrasi datang mencari para warga asing ini, mereka langsung melarikan diri dan bersembunyi dihutan,” kata Sudirman.

Larinya para WNA ini, sambung Kepala Desa Termuda di Kabaena ini, menambah kuat kecurigaan masyarakat setempat, sebab jika mereka memiliki dokumen resmi, kenapa sampai melarikan diri dan bersebunyi dihutan.

“Beberapa waktu lalu, saya pernah memeriksa dokumen keimigrasian para WNA ini karena mereka tinggal diwilayah desa saya, setelah saya periksa ternyata mereka cuma memiliki dokumen wisata saja, bahkan ada yang dokumennya sudah berakhir 6 Agustus kemarin,” ungkapnya.

Terpisah, kepala kantor Imigrasi Bau-Bau, Edisong yang juga dikonfirmasi melalui telefon selulernya membenarkan, jika pihaknya telah mendatangi PT SSU di Kabaena Utara dimana para WNA bekerja.

“Kami tidak menemukan seorang pun WNA disana. Serta belum dapat dipastikan, apakah ada pekerja asing disana, atau tidak ada,” ujarnya.

Sebelumnya Wakil ketua DPRD Bombana, Amiadin SH, saat dikonfirmasi pada selasa (30/8/2016) juga mengatakan, Pemkab Bombana melalui Disnakertrans perlu mengidentifikasi keberadaan ratusan WNA tersebut.

“Pemerintah di Daerah ini harus mendata setiap warga asing yang masuk ke daerah ini. Meski saat ini sudah memasuki era MEA (Masyarakat Ekonomi Eropa), namun kita harus tau keberadaan mereka, apakah mereka datang melancong atau apa disini,” tukas Amiadin.

Penulis: Redaksi/Andri

Ruangan komen telah ditutup.