BannerDepan

Ini Penjelasan Dirut PT. SSU Soal PHK Massal

Bombana, Sultrapost.id – Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal yang dilakukan PT. Surya Saga Utama (SSU) rupanya bukan tanpa alasan. 544 karyawan yang diberhentikan itu terpaksa dilakukan, lantaran kondisi perusahaan yang mengalami kerugian selama beberapa tahun ini.

Direktur PT. SSU, Kasra Jaru Munara mengungkapkan, bahwa Sejak beroperasinya pabrik pemurnian smelter setahun lalu, selalu mengalami beberapa gangguan teknis, termasuk shutdown. Sehingga kuantitas dan kualitas produk yang dihasilkan tidak pernah maksimal.

“Akibatnya perusahaan selalu merugi. Bahkan beberapa modifikasi peralatan yang dilakukan dengan biaya yang cukup besar, akan tetapi hasilnya tetap sama,” ungkapnya, Sabtu 24 November 2018.

Kondisi yang semakin kritis dan kompleks itulah kata dia, sehingga pihak perusaahaan memutuskan untuk menghetikan operasional smelter sejak 8 November 2018. Dimana saat itu semua karyawan dirumahkan. Bahkan tenaga kerja asing selain management inti, juga dipulangkan ke negaranya masing-masing.

“Perusahaan juga sudah menempuh beberapa upaya untuk menekan biaya operasional seperti, mengatur jadwal kerja shift dan sudah beberapa kali meliburkan karyawan untuk beberapa hari. Namun upaya ini tidak banyak membantu,” bebernya.

Lanjutnya, seminggu berselang berdasarkan arahan dari CEO, manajemen PT. SSU diminta untuk menghentikan secara total operasional pabrik pemurnian nickel yang beroperasi di Desa Tedubara, Kecamatan Kabaena Utara itu.

“Konsekuensinya, manajemen terpaksa harus melakukan PHK terhadap 544 karyawan. Yang tersisa hanya HRD Manager, 1 HRD Amin, Project Manager, Assistant Project Manager, Site Manager, penterjemah, pengurus mess dan juru masak,” ucapnya.

“Kami sangat berempati dengan keadaan yang dialami oleh karyawan karena terpaksa kehilangan pekerjaan.
Kami juga berharap agar karyawan bisa bersabar dan ikut mendoakan agar smelter PT SSU bisa lebih cepat beroperasi kembali,” pungkasnya.

Untuk diketahui, penyampaian keputusan perusahaan dilakukan pada tanggal 20 November oleh Kasra Munara selaku Direktur. Dalam Kesepakatan dengan pihak karyawan yang dituangkan ke dalam berita acara, memuat beberapa poin-poin yakni, pihak karyawan menerima keputusan PHK, perusahaan akan membayarkan gaji karyawan di bulan Nopember, perusahaan akan membayarkan uang pesangon, sesuai UU Ketenagakerjaan nomor 13 Tahun 2003. Perusahaan juga berjanji apabila smelter beroperasi kembali, maka karyawan yang terkena dampak PHK akan diprioritaskan untuk direkrut kembali disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.

Laporan: Aidil

Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.