Kisah Akhir Mokole Kabaena XII (Mokanda Haji Djamaluddin i Mbuentama Motu’a)

Oleh:

Ilfan Nurdin (Lurah Teomokole Pulau Kabaena).

Kawan, telah kukisahkan padamu bagaimana gebrakan visioner dan reformis yang dijalankan oleh Mbuentama Motu’a sehingga oleh Ratu Wilhelmina menganugerahkan tanda jasa pada beliau.
Tahukah kamu kawan, Prestasi fenomenal beliau:

Menyusun sistem administrasi Pemerintahan Kamokole’a sesuai dengan administrasi sistem Pemerintahan Belanda, sistem pembukuan dan laporan pertanggungjawaban setiap tahun pada kontroleur.
Dalam bidang pajak, beliau langsung membayarkan pajak seluruh masyarakat Pulau Kabaena/tahun, nanti rakyat yang bayar pajak ke beliau jika mampu.
Pembangunan jalan sepulau Kabaena sebagaimana yang kita nikmati hari ini.
Memajukan sistem pendidikan, antara lain Haji Abdurrahim Mbue Ntama day Raha (anak kandungnya) disekolahkan di Makassar, kemudian kembali ke Kabaena dan menjadi juru tulis ayahnya, dan Mokole Day Dama, sebelum beliau dinobatkan jadi Mokole, tanpa ragu beliau menyekolahkan anak kandungnya juga Haji Dullah untuk menjadi guru pada sekolah formal, mengirim Culuri untuk dididik jadi ulama di Mekkah, mendirikan sekolah sekolah modern dan bantuan bea siswa pedidikan bagi masyarakat Kabaena kurang mampu. Kemudian,
Tingkat keamanan pulau Kabaena kondusif selama masa pemerintahannya, tidak pernah terjadi pencurian karena rakyat Makmur Sejahtera Sentosa.

Mokanda Djamaluddin (Tengah) dan Muh. Alie Mokole Daidama (Kanan).

Pada tahun 1929, sebelum beliau turun takhta, bersama 40 orang warga Pulau Kabaena, beliau menunaikan ibadah Haji ke Mekah dan menyerahkan tampuk Pemerintahan kepada Haji Muhammad Said gelar Sulewatang sebagai pejabat Mokole sampai tahun 1931 setelah beliau kembali dari menunaikan rukun islam ke lima.

Tahun 1932 beliau turun takhta, sebagaimana lazimnya tradisi penggantian Mokole yang dilakukan secara sistem pemilihan terhadap para anakia (bangsawan) yang di anggap cakap dan berhak atas takhta dan mahkota, maka oleh dewan Syara Da Motu’a telah menjaring para calon Mokole dan muncul 2 (Dua) figur kuat untuk menggantikan i Mbuentama Motu’a yakni Haji Muhammad Said yang notabene adalah anak mantu beliau dan Haji Muhammad Alie yang notabene adalah adik beliau pula. Pemilihan Mokole dilaksanakan di Baruga Dongkala dan yang terpilih adalah Haji Muhammad Alie.

Namun kawan, i Mbuentama Motu’a di akhir hayatnya tahun 1959 sungguh menyedihkan karena mendapat perlakuan yang tidak wajar dari aparat keamanan yang bertugas menjaga keamanan dari gangguan DI/TII, beberapa kali pihak aparat bertandang ke istana beliau di Olondoro dan mengambil dengan paksa beberapa barang berharga milik beliau dengan intimidasi yang sangat menyakitkan hati dan nurani penduduk Pulau Kabaena. Salah satu cara i Mbuentama Motu’a menyelamatkan pusaka pusaka itu adalah menanamnya di belakang istananya.

Sungguh kawan, seorang Raja yang predikat Yarona diakhir hidupnya di alam kemerdekaan tidak menikmati isi kemerdekaan itu sendiri. Akhirnya Doa doa panjang untuk beliau, Almarhum Yarona Mokanda Haji Djamaluddin, gelar i Mbuentama Motu’a kita panjatkan kehadirat Ilahi Rob, semoga mendapat tempat yang layak disisi-Nya. Amiin YRA …. (*)

Ruangan komen telah ditutup.