Maksimalkan Peran, Zahrir Baitul Hijrah Nyaleg dari Mubar ke Dapil 1 Muna

Muna, Sultrapost.Id – Sosok Zahrir Baitul sudah tidak asing lagi dalam dunia perpolitikan di wilayah Muna Raya. Dia merupakan mantan anggota DPRD Muna Barat (Mubar) sekaligus Ketua Fraksi PAN. Sayangnya, pria kelahiran, Raha 21 Oktober 1972 itu belum sempat menyelesaikan tugasnya sebagai wakil rakyat hingga 2019 akibat di PAW saat Ketua DPD PAN Mubar dijabat oleh LM Rajiun Tumada (Bupati Mubar). Pemecatan itu bukan karena Alumni Fakultas Kehutanan dan Pertanian Unhas itu tidak loyal di partai. Namun, dikarenakan ia selalu vokal mengkritisi kebijakan Pemkab Mubar yang diduga tidak pro rakyat.

Saat ini, ia kembali mengadu peruntungan menjadi calon anggota DPRD. Namun, bukan di Mubar, tetapi nyaleg di Muna dengan mengambil Dapil 1 yang meliputi Kecamatan Katobu dan Batalaiworu. Begitu juga dengan partainya, bukan lagi PAN, tetapi Hanura. Ia terdaftar sebagai Caleg Hanura nomor urut 1.

Zahrir menceritakan, lima tahun lalu (2014), dirinya sebagai Caleg DPRD Muna Dapil IV (saat ini wilayah Mubar). Hanya saja sebagai konsekuensi UU no 14 tahun 2014 tentang terbentuknya DOB Mubar, maka secara otomatis dia duduk di DPRD Mubar. Mantan Ketua Umum Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Fapertahut Unhas 1994-1995 menerangkan alasanya hijrah nyaleg ke Muna, semuanya tidak terlepas dari dorongan moril memaksimalkan peran-peran sebagai wakil rakyat jika diberi amanah. “Saya menyadari sepenuhnya bahwa kesadaran politik masyarakat dan interaksi antar lembaga penyelenggara pemerintahan di Muna sangat kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya kebebasan berpendapat, hadirnya transparansi dan proses demokratisasi. Terlebih lagi diera kepemimpinan LM Rusman Emba saat ini, mampu menempatkan pihak DPRD sebagai mitra sejajar yang bermartabat dalam proses penyelenggaraan pemerintahan daerah,” katanya.

Mantan Ketua Litbang Senat Mahasiswa Unhas (SMUH) 1995-1996 mengaku sangat berat meninggalkan PAN yang sudah 10 tahun berkiprah didalamnya. Di PAN, ia mendapatkan banyak hal tentang bagaimana membangun etika dan moralitas seorang politisi yang ideal. Dan dengan segala dedikasi dan pengabdian, mereka mampu mengantarkan PAN sebagai pemenang Pilcaleg. Diposisi itu juga, secara otomatis PAN berhak secara konstitusional untuk mencalonkan bupati dan wakil bupati Mubar tanpa koalisi. Sayangnya kerja keras, pengabdian dan dedikasi mereka di PAN harus tercederai oleh ambisi sekelompok orang yang dengan segala kuasanya mampu membangun konspirasi pada akhirnya berujung pada penyingkiran beberapa kader potensial PAN. Namun, akhirnya seiring dengan perjalanan waktu, sejarah bisa membuktikan siapa sesungguhnya “pejuang” dan “pecundang” di PAN. “Jadi kami tidak pernah meninggalkan PAN, tapi kondisilah yang memaksa kami untuk mencari kendaraan alternatif lain untuk tetap berkiprah di dunia politik,” ungkapnya.

Ketua Umum Majelis Daerah Korps Alumni HMI (KAHMI) Mubar itu memilih Hanura sebagai kendaraan politiknya di Pilcaleg Muna tidak serta merta terjadi. Semuanya melalui proses perenungan yang begitu panjang dengan mempertimbangkan banyak hal yang kemudian mendorong untuk tetap melanjutkan ikhtiar politik bagi kepentingan rakyat lewat partai Hanura.
“Platform perjuangan Partai Hanura adalah bersungguh-sungguh melahirkan kader politik yang berkarakter pemimpin bukan penguasa,” ungkapnya.

Dalam pandangan Partai Hanura, katanya, pemimpin itu lebih mengedepankan sisi moral dan etika pengabdian pada masyarakat. Artinya, lebih berfokus pada perjuangan yang bisa menyentuh sisi substansial dari kebutuhan dan kepentingan mendasar masyarakat. “Politisi dan penguasa itu berbeda. Politisi harus bisa dekat dan hadir di tengah-tengah suasana kebatinan hati nurani rakyat. Sementara penguasa dalam politik itu lebih cenderung pada formalitas dan pencitraan serta lebih berorientasi untuk dilayani, bukan melayani,” jelasnya.

Ayah satu anak itu memilih Dapik I dikarenakan, wilayah itu dalam analisa dan pandangan adalah medan politik yang mayoritas didiami oleh kaum intelektual, cerdik pandai dan kelompok tercerahkan yang memiliki kesadaran politik sangat tinggi. Sehingga mayoritas pemilih di Dapil I adalah pemilih rasional, yang mana diyakini akal sehat dan rasionalitas masih sangat dominan menjadi pertimbangan utama dalam menentukan pilihan politik. “Dengan pemilih yang mayoritas seperti itu, kami yakin insya Allah dengan kerja serius dari semua Caleg dan jaringan struktur partai, Hanura akan berhasil merebut 1 kursi dari 6 kursi yang diperebutkan,” ucap dia.

Sebagai mantan anggota DPRD, Zahrir yang juga penulis dibeberapa media lokal siap perang ide, konsep dan gagasan soal bagaimana memerankan DPRD sebagai lembaga yang benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat dan daerah. “Jika rakyat memberikan amanah pada saya atas izin dan kehendak Allah, Insya Allah saya akan beriktiar dengan penuh kesungguhan hati mendorong dan memastikan secara maksimal terlaksananya peran-peran institusional DPRD sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku, benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat dan daerah,” janjinya.

Dalam ikhtiar politik menghadapi Pilcaleg tahun 2019 nanti, dia mengusung tagline “Bangkit, Jaya dan Menang. Insya Allah AMANAH”. Nah, sebagai komitmen bila terwujud menjadi anggota DPRD Muna, ia berjanji dalam proses penyususan APBD dan Perda, benar benar berpihak pada upaya untuk memaksimalkan fungsi Rumah Sakit Modern Raha sebagai sarana pemenuhan kebutuhan kesehatan masyarakat yang memadai. Kemudian,terwujudnya sarana dan prasarana pasar yang sehat memadai bagi sentra perdagangan interaksi ekonomi masyarakat. Begitu pula sarana-sarana publik dan lingkungan yang bisa menciptakan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat. Sehingga Kota Raha kedepannya bisa mencerminkan wajah yang sesungguhnya dari Kabupaten Muna. “Semua peran-peran itu tentunya dalam koridor batasan tugas dan tanggung jawab anggota DPRD sebagaimana yang di atur dalam peraturan perundangan-undangan. Kedepannya kami berharap Kota Raha akan menjadi lokomotit utama maju dan berkembangnya Kabupaten Muna,” tutup editor Buku Biografi Bupati Muna, Ridwan BAE dan Buku Biografi Bupati Muna, LM Baharuddin itu.

Penulis: Kinong

Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.