PHK Massal, Pemilik PT SSU Diminta Tidak Tebang Pilih

Bombana, Sultrapost.Id – Kemarin, tepatnya tanggal 20 November 2018, PT Surya Saga Utama (SSU) perusahaan yang tengah membangun pabrik pemurnian nikel (Smelter) di kecamatan Kabaena Utara kabupaten Bombana, melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara massal. Tepatnya sebanyak 544 orang warga lokal kehilangan pekerjaan untuk sementara waktu.

Pantauan Sultrapost.Id, dalam video siaran langsung yang di unggah akun facebook bernama Simon Batenam, terlihat ratusan karyawan hadir mendengarkan pengumuman pahit itu. Suasana berjalan aman dan lancar. Direktur PT SSU Kasra Jaru Munara dan HRD Willy Yulistiawan bergantian memberikan arahan, dengan harapan agar semua karyawan yang terkena tsunami PHK dapat menerima dengan sabar dan lapang dada.

Dalam siaran itu, salah satu karyawan bernama Basir, warga desa Tedubara, mempertanyakan hak hak karyawan yang di PHK, dan kewajiban perusahaan yang harus diselesaikan, pertanyaanpun langsung dijawab oleh HRD. Hingga video siaran langsung berakhir, suasana dalam kondisi berjalan normal.

Namun, meski dalam video siaran langsung itu terkesan berjalan normal saja, nampak berbeda dengan tanggapan mantan Humas PT SSU, Musafir, yang baru terkena PHK, saat menghubungi redaksi Sultrapost.Id.

Menurutnya, pemilik atau manajemen perusahaan harus berlaku adil dan tidak tebang pilih kepada karyawan PT SSU di Site Kabaena, dalam hal pengambilan keputusan soal PHK. Dan jikalaupun masih ada yang akan diberdayakan, diharapkan adalah karyawan/masyarakat lokal Kabaena.

“Kami terima soal PHK itu, tapi harus semua terkena PHK, termasuk Direktur, HRD, dan KTT, karena dia karyawan juga, dan kalau ada yang masih akan dipekerjakan, maka itu adalah keryawan lokal. Semisal soal pengamanan aset, saya pikir security bisa jaga disitu bersama dengan anggota pengamanan yang dihadirkan perusahaan,” ungkapnya, dengan nada kesal.

Dia berjanji akan mengawal kebijakan perusahaan tersebut, dan siap melakukan aksi besar besaran jika ada hak hak karyawan yang tidak terselesaikan.

Dikonfirmasi terpisah, Rabu tanggal 21 November 2018, HRD PT SSU Willy Yulistiawan, membenarkan PHK 544 karyawan tersebut. Dia menjelaskan bahwa, keputusan itu dikeluarkan oleh perusahaan karena selama ini perusahaan terus merugi dan belum pernah mendapatkan incame.

Lebih lanjut Willy menjelaskan, perusahan akan memberikan semua hak hak karyawan yang telah di PHK, termasuk didalamnya pesangon, berdasarkan aturan perundang undangan yang berlaku.

“Secepatnya akan kita selesaikan tanggungjawab perusahaan,” ungkapnya.

Bupati Bombana H Tafdil, yang dikonfirmasi terkait PHK massal PT SSU kepada karyawannya, memilih diam dan belum bisa memberikan komentar. Katanya, akan memahami terlebih dahulu permasalahan yang kini dihadapi oleh Perusahaan Smelter tersebut.

Penulis: Erwin
Editor: Leros

Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.