Tingkatkan Kesadaran Masyarakat, FLLAJ Sultra Gelar Sosialisasi Keselamatan Berlalu Lintas

Kendari, Sultrapost.ID – Dalam rangka memberikan pemahaman untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam berlalu lintas yang benar, Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (FLLAJ) Sultra, melaksanakan sosialisasi keselamatan berlalu lintas dan pengaduan.

Kegiatan yang berlangsung di salah satu hotel di Kendari pada Jumat 11 Desember 2020 itu di ikuti oleh 45 orang peserta yang terdiri dari anggota FLLAJ Sultra, Mahasiswa, Anggota MTI Prov. Sultra serta PIU PHJD Sultra. Mereka diberikan penjelasan oleh dua narasumber yakni Adris. A. Putra dan La Ode Muhammad Magribi.

Adris. A. Putra, dengan tema transportasi yang berkeselamatan mengatakan kriteria jalan berkeselamatan, dasar hukum dan kebijakan pemerintah, permasalahan di bidang keselamatan transportasi jalan, strategi keselamatan transportasi merupakan salah satu isu global di dunia. Karena menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan.

“Penanganan keselamatan transportasi jalan merupakan hal yang sangat kompleks, baik ditinjau dari permasalahannya maupun instansi atau lembaga yang semestinya terlibat didalamnya. Akibat kecelakaan lalu lintas jalan diperkirakan mencapai 2,9 sampai 3,1 persen dari total pdb Indonesia,” ungkapnya.

Kevin Abdullah Alrasyid salah seorang peserta mengajukan pertanyaan kepada narasumber mengenai polisi tidur yang merupakan prasarana untuk mengurangi kecepatan kendaraan. Kata dia, dalam pembangunannya pun ada SOP. Terlebih lagi  dalam aturan Permenhub dikatakan bahwa masyarakat tidak punya wewenang untuk membangun.

“Tetapi yang terjadi dilapangan khususnya dijalan lingkungan atau lorong-lorong itu biasa kita dapatkan polisi tidur. Bagaimana solusinya terkait persoalan ini,” ucapnya.

Adris. A. Putra menyatakan bahwa nama ilmiah dari polisi tidur adalah gelombang kejut.  dalam pembangunannya memang memiliki SOP tersendiri dan biasanya dibangun di jalan besar dan arteri jalan tol. Ada benar dan ada salahnya dalam masyarakat membangun gelombang kejut di jalan lingkungan.

“Salahnya tidak ada aturan agar masyarakat punya wewenang membuat atau membangun gelombang kejut, bisa juga benar membangun gelombang kejut karena biasanya di lorong-lorong atau jalan lingkungan sering kita dapatkan anak-anak remaja membawa kendaraan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Sehingga mengganggu masyarakat pada umumnya. Nah Ini dikembalikan di RT/RW setempat,” jawab Adris.

Sementara itu Muhamad Anwar yang juga bertanya kepada Adris, salah satu penyebab kemacetan yaitu tidak seimbangnya kapasitas dan jumlah kendaraan.

“Kira-kira apa alasan pemerintah memberikan saran agar menggunakan fasilitas transportasi umum untuk mengurangi kemacetan dan Kenapa tidak memperluas kapasitas jalan saja,” tanya Anwar.

 

Adris. A. Putra menjelaskan pertimbangan jika menggunakan sarana transportasi umum karena pengadaannya cukup simple dan tidak memerlukan waktu lama untuk mengadakannya. Cara kerjanya yaitu jika masyarakat yang menjadi masalah kemacetan dikarenakan menggunakan transportasi pribadi yang membuat volume kendaraan tidak sebanding dengan kapasitas jala.

“Beralih ke mode transportasi umum dapat mengurangi jumlah kendaraan yang berlalu lintas. Dari hasil itulah volume kendaraan akan sesuai dengan kapasitas jalan,. sedangkan jika kita memperlebar jalan membutuhkan dana dan waktu yang lama.  Sementara berjalannya waktu karena di Indonesia mudah untuk mendapatkan kendaraan, maka semakin bertambah pula jumlah kendaraannya yang menjadikan menjadi tidak efektif,” tutupnya.

Pada materi kedua yang dipaparkan oleh La Ode Muhammad Magribi, dengan tema pemahaman uji laik fungsi jalan menuju jalan berkeselamatan dan berkepastian hokum, menyebutkan performance jalan di indonesia, isu strategis dan problem lokal serta global,  harapan indonesia kedepan, akar masalah penyebab penurunan mutu jalan, perubahan paradigma penyelenggaraan jalan, kriteria jalan berkepastian hukum, kriteria jalan berkeselamatan, contoh kasus jalan tidak berkeselamatan.

“Kesimpulannya adalah akar masalah penyebab penurunan kualitas pelayanan jalan nasional merupakan akumulasi dari faktor eksternal (di luar kewenangan penyelenggara jalan) dan faktor internal (tanggung jawab penyelenggara jalan), kriteria jalan berkeselamatan: self forgiving road, self explaining road, self regulating road, dan self enforcing road, jalan berkeselamatan harus memenuhi persyaratan teknis dan persyaratan administrasi dalam rangka menjamin keselamatan berlalu lintas di jalan dan berkepastian hokum,” pungkasnya. (Adv)

 

 

 

Anda mungkin juga berminat
Tulis Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.